Berziarah ke Makam Laksamana Malahayati, Perempuan Perkasa dari Aceh

Lokasi makam Laksamana Malahayati yang terletak di Desa Lamreh Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Aceh, menjelang hari Pahlawan, para prajurit TNI di Aceh ramai-ramai membersihkan situs cagar budaya tersebut. Di sini, mereka bergotong royong hingga mengecat pagar makam.

Gotong royong bersama ini melibatkan 120 personel Komando Distrik Militer (Kodim) 0101/BS dan Dinas Sosial Aceh Besar. Prajurit TNI berseragam loreng ini berbagi tugas mulai dari membersihkan areal makam hingga mengecat pagar.

Komandan Koramil 05/Mesjid Raya Mayor Chb Bukhari, mengatakan, kegiatan gotong royong ini dilakukan dengan tujuan sebagai bentuk rasa kepedulian dan rasa hormat terhadap para pejuang. Selain itu, aksi bersih-bersih dalam rangka menyambut hari pahlawan ini juga untuk menjaga serta melestarikan situs cagar budaya yang ada di wilayahnya.

“Sasaran pada kegiatan gotong royong ini, yakni pembersihan kanan kiri jalan masuk situs, pengecatan pagar, dan pembersihan seputaran halaman makam,” kata Bukhari dalam keterangan yang diterima detikcom, Jumat (3/11/2017).

Bukhari pun mengajak semua lapisan masyarakat untuk melestarikan situs cagar budaya. Tujuannya, agar generasi berikutnya dapat mengetahui dan melihat lokasi-lokasi sejarah.

“Mari kita jaga dan lestarikan situs Cagar Budaya yang ada di wilayah kita, agar generasi berikutnya dapat melihat tentang lokasi-lokasi sejarah,” jelas Danramil.

Laksamana Malahayati merupakan seorang pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Semasa hidupnya, Malahayati pernah menjadi pemimpin 2 ribu orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) saat berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda.

Pada 11 September 1599 Malahayati berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal Belanda. Atas keberaniannya itulah, Malahayati kemudian mendapat gelar Laksamana.

Tahun ini, Laksamana Malahayati rencananya akan dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional. Selain Malahayati, ada dua tokoh lagi yang juga bukan berasal dari Pulau Jawa.

“Termasuk Mahalayati kan sudah lama itu ya dari tahun 1500-an sekian,” kata Menhan Ryamizard Ryacudu selaku Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (26/10).

Teks: Detik.com