Cut Mutia Heritage House

Cut Nyak Meutia atau dikenal dengan Cut Meutia adalah pahlawan wanita dari Aceh yang terkenal selain Cut Nyak Dien. Cut Meutia selama 20 tahun telah memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda di wilayah Aceh Utara. Dari rumahnya inilah beliau aktif dalam memimpin dan mengatur strategi peperangan melawan Belanda itu.

Sama seperti Rumoh Aceh yang lainnya, Rumah Cut Meutia yang berlokasi di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matang Kuli, Kabupaten Aceh Utara, sekarang dijadikan museum, rumah ini memiliki 16 tiang penyangga. Bagi masyarakat Aceh membangun rumah bukan sekedar sebagai hunian saja, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan.

Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah.

Selain bangunan rumah, di lokasi ini kita juga bisa melihat beberapa benda tradisional dan bangunan masyarakat Aceh. Ini beberapa di antaranya:

1. Kroeng
Kroeng dalam bahasa Indonesianya karung adalah tempat untuk menyimpan padi. Berjumlah tiga buah dan berada di halaman rumah.

2. Jeungki
Pada zaman dahulu, sebelum ada mesin penggiling padi, masyarakat aceh menggunakan Jeungki sebagai alat penumbuk padi

3. Balai
Balai ini berukuran kurang lebih 3 x 4 m. Bangunan ini biasanya dipergunakan untuk tempat berkumpul, ajang silaturahmi, dan tempat bersantai bagi masyarakat Aceh.

4. Monumen Cut Meutia
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya melawan belanda, yang pada akhirnya Cut Meutia gugur bersama pasukannya pada tanggal 24 Oktober 1910. Di area rumah ini dibangun monumen perjuangan.

Lokasi dan Transportasi
Rumah Cut Meutia yang berada di Desa Mesjid Pirak berjarak 3 km dari desa Matangkuli, Kecamatan Matangkuli. Rumah Adat Cut Meutia ini dibangun kembali dan diberi pagari atau diberi pagar oleh Pemerintah Aceh sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan Wanita Nasional dari Aceh ini.

Untuk menuju ke lokasi rumah Cut Meutia ini, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi. Desa Matangkuli ini terletak kurang lebih sekitar 33 kilometer dari Kota Lhokseumawe. Kurang lebih memakan waktu 1-1,5 jam dari Kota Lhokseumawe.

Setelah Anda sampai di Desa Matangkuli, Anda bisa meneruskan perjalanan kurang lebih sekitar 3 kilometer lagi untuk sampai ke lokasi. Jangan khawatir, perjalanan Anda ke lokasi ini tidak akan sia-sia karena keindahan alam dan suasana pedesaan ditambah lagi dengan area persawahan di daerah Matangkuli tidak akan membuat Anda bosan.

Tips:
1. Menyewa mobil rental atau supir penduduk lokal, karena kurangnya perhatian pemerintah mengenai akses jalan menuju ke sana. Tidak ada jalan penunjuk arah untuk menuju ke sana yang lumayan masuk ke perkampungan warga.

2. Bagi wisatawan diharap membawa makan sendiri, karena di sana hanya ada kurang dari 5 warung yang hanya menjual makanan ringan saja. Dan jangan lupa membawa plastik untuk membuang sampah sisa makanan untuk menjaga kebersihan. Kebersihan menjadi permasalahan utama bagi dinas pariwisata di Aceh, karena masyarakat Aceh kurang sadar akan kebersihan dan pentingnya kebersihan tempat wisata. Aceh punya alam dan keaneka ragaman budaya yang khas, tapi percuma kan kalau masyarakatnya tidak bisa menjaga.

//detik.travel